Allah Memelukku Erat


Selamat hari kemerdekaan.

Merdeka!
Iya, aku merdeka.
Bagi saya merdeka itu ketika kita bahagia sepanjang waktu, gak penuh prasangka sama hal-hal yang gak memerlukan prasangka kita. And well, semua sih terserah sama pilihan masing-masing tentang bagaimana cara memilih rasa memerdekakan diri.

Khusus kali ini, saya ingin menjawab tentang pertanyaan yang hadir.
"Putri gimana? Bisa sidang skripsi?"
 Pertanyaan yang biasa banget untuk mahasiswa tingkat akhir yang emang lagi ngerjain skripsi. Tapi buat saya itu istimewa banget. Bisa dibilang kaya gak mungkin gitu. Kenapa gak mungkin? Yap, karena 1 minggu sebelum saya sidang skripsi, saya baruuu aja menyadari kalau ada salah satu nilai mata kuliah saya yang 'E'. E itu artinya gak lulus. Pilihannya cuma 2: ngulang mata kuliah lagi semester depan (dan itu berarti saya harus lulus di semester 9) atau meminta perbaikan nilai dari dosen.

Ah, saat itu rasanya hancur abis hidupkoeee.
Ibaratnya untuk melangkah lagi sampai puncak, eh ternyata harus mundur lagi dan muncaknya besok-besok.

Disini saya benar-benar intropeksi diri, satu pertanyaan yang selalu saya ulang-ulang, "Yaa Allah, pasti ada yang salah ya dari prosesnya selama ini? Sampai akhirnya dikasih ujian begini.."
Kalau gak salah sampai seminggu saya memutuskan buat gak ke kampus, lebih tepatnya gak ketemu teman-teman kampus. Kaya gak ada nyali gitu, padahal ya gak ada hubungannya sama teman-teman juga. Tapi rasanya gak kuadh gitu kalau ditanya, "Kenapa Put? Kok berkas skripsi lo diambil lagi?" Iyaa kan saya gak bisa daftar sidang duluuuuu. Hikz.

Rasanya sepi banget. Mematut-matut diri rasanya. Orang tua sudah berharap banyak dan taunya yaa saya lulus semester ini. Mereka nanyain, gimana gimana gimana? Nanti wisuda pakai baju apa? Ooo tidak. Ngomong jujur gak nih?

Di masa-masa seperti ini, saya butuh teman untuk bercerita. Teman yang lebih sangat dewasa dari saya baik dari segi umur, pengalaman, dan pengetahuan agama. Akhirnya memberanikan diri datang ke rumah Ustadzah.
Mbak, begitu ceritanya. Takut banget dan sedih banget kalau lihat wajah orang tua yang sudah berharap banyak. Kalau nambah semester pun, bayar SPP nya lumayan. Belum lagi, sebenarnya saya akhir Juli ini sudah bilang 'ya' untuk masuk ke rumah tahfidz. Jadi rumit, waktu sidang pun tinggal seminggu lagi. *dan gak kerasa mata kaya basah gitu.

Saat itu, Ustadzah banyak ngasih cerita pengalaman kuliahnya dan beberapa disclaimer. Hingga masuk ke bagian taujihnya

Put, serahkan semua sama Allah. Segala ujian ini datang dariNya, mungkin selama ini terlalu sibuk sama urusan dunia sampai ibadahnya kendor. Jangan lupa ikhtiar, untuk sekarang, restu dosen yang bisa menolong. Dan inget, hatinya dosen itu milik siapa? Milik Allah. Maka minta sama Dia. Dan inget, pasrah dan tawakkal setelah berikhtiar. Siapkan mental untuk kemungkinan terpahitnya kalau harus nambah, gak usah mengkhawatirkan rezekinya. Allah lagi pengen putri belajar sabar...

Itu. Itu poinnya. Pasrah. Berserah. Tsiqoh atas segala ketetapannya.
Kemarin-kemarin saya kekeuh minta sama Allah, harus lulus semester sekarang. Tapi saya gak boleh begitu terus, gak boleh memaksakan kehendak sama Allah, tapi mintalah dengan segala kelembutan. Akhirnya tiap bakda sholat saya katakan... Yaa Allah, putri bermunajat padaMu. putri berencana untuk lulus semester ini, tetapkanlah juga untuk putri lulus semester ini Yaa Allah. Namun, kuatkan putri untuk segala ketetapanMu. Yaa Allah, jika ujian ini datang karena dosa-dosa putri di masa lalu, ampuni putri yaa Allah, ampuni. Namun jangan limpahkan sedih ini pada orang tuaku, kepada putri saja yaa Allah....

Waktupun bergulir, ikhtiarku harus terus berjalan, kan?
Pertama-tama harus menemui dosen yang bersangkutan. Proses ketemu dosen ini lumayan panjang. Karena lagi musim liburan kuliah, dosen jadi jarang ke kampus kecuali ada sidang skripsi. Udah seminggu berlalu, tapi belum ketemu juga. Haaap, saya gak boleh nyerah. Sampai akhirnya Allah kasih petunjuk lewat teman kampus yang juga mau ketemu dosen itu. Ketemunya di rumah dosen tersebut.

Singkatnya, saya sampai di kediaman dosen yang ternyata gak jauh dari rumah saya. Berbincang sana-sini dan kemudian menyampaikan maksud. Beliau meluruskan dan memberi arahan, hingga akhirnya, "Kamu mau nilai berapa?" "D aja cukup Bu, yang penting lulus mata kuliah ini.." "Hmmm gitu. Eh iya, IP kamu sekarang berapa?" "3,6 bu.." "wah gede, Ibu kasih B-..."

Yaa Allah, nikmat mana lagi yang kau dustakan? 

Sampai detik itu saya benar-benar gak percaya. Yaa Allah, Allah maha baik banget, melembutkan hati dosen ini. Dan saya bisa sidang skripsi kemudian dinyatakan lulus S.Pd.

Ada yang bertanya-tanya, kok bisa Put dapat nilai segitu?
Sesuatu hal yang kayanya mustahil. Tapi dengan Allah semua jadi mungkin.

But ikhwah, ternyata bener. Kita tuh kadang sibuk sama dunia sehingga targetan Ibadah Yaumiyah jadi lalai.
Seminggu saya dirumah, akhirnya mutusin gak ngerjain apa-apa (kecuali kerjaan rumah) selain ibadah.
Kalau lagi perlu untuk berhubungan sama manusia, pun jangan lupa untuk doain yang bersangkutan.
Mungkin sedikit MY yang intensif dikerjakan kalau kita punya hajat:

1. Baca doa robitoh dan bayangin wajah yang bersangkutan setiap bakda sholat (1-2 kali tiap bakda sholat) lalu iringi doa terbaik.
2. Dzikir "Hasbunallah wa nikmal wakil. nikma maula wa nikmannasir" artinya "cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah sebagai sebaik-baik pelindung". Setiap hari minimal 500 kali. setelah itu dilanjutkan Istighfar, Tasbih, Tahmid minimal 500 kali juga. Tujuannya: tauhidullah ya, tetap berkeyakinan bahwa Allah sebaik-baik penolong dan pelindung kita.
3. Baca Al-Quran minimal se-juz
4. Sholat sunnah, dhuha dan qiyamul lail setiap hari
5. Birul Walidain ditingkatkan
6. Minta doa orang tua
7. Perbanyak sedekah
8. Buka dan terima setiap kesempatan berbagi atau ketika diberikan amanah dakwah. (masalah gak bikin kita mundur dari jamaah kan?)
9. Ikhtiar MAKSIMAL. sebelum waktu habis, harus tetap ikhtiar.

yaa itu yang mulai saya perbaiki. Jangan ditanya, sebelumnya ibadah saya jeblak jeblok. Cuma mikirin nih gimana bisa selesai skripsi. ternyata its totally wrong guys, lo gak deket sama Allah, dunia juga bakal jauh dari lo.

4 sehari setelah acc dosen, saya dijadwalkan sidang skripsi. Hal yang sama saya lakukan menuju sidang, doa ribitoh untuk dosen penguji gak ketinggalan.

Alhamdulillah, siang itu tanpa kendala saya presentasi hasil skripsi saya. Sorenya, dinyatakan lulus.
yaa Allah, kalau saya sombong, prustasi, atau malah nyalahin keadaan (bukannya intropeksi diri) mungkin sekarang saya lagi mengutuk waktu dan banting tulang bayar semesteran..

....
Eit tapi semua belum usai, sekali lagi Allah uji. kabulan dari doa "limpahkan kesedihan pada saya saja"
Selesai sidang, Hard-disk organisasi yang dititipkan ke saya ketinggalan di koridor lantai 8. Dan saya baru sadar ketika sudah pulang. Harganya? Sejuta :") Well, ayo kita nabung buat ganti harddisk ini. :D

Tapi sekali lagi juga Allah kasih nikmatnya. (ah cinta banget)
Seminggu kemudian saya ke kampus lagi. Bertanya ke OB, nemuin harddisk gak pak? Enggak. Nanya lagi ke OB lantai 9, jawabannya enggak juga. Lemash saaay.
Akhirnya, saya tergugah untuk masuk ke ruangan sidang saya minggu lalu. Saat itu, sedang ada sidang skripsi juga untuk jurusan Akuntansi. Dan sebenarnya selain dosen dan yang sedang di ujian skripsi gak boleh masuk. tapi bismillah, masuk aja dah...

Akhirnya.... Ada. Adaaaa. Adaaa. Ditumpukan berkas-berkas yang ketinggalan. Di paling atas, dan memungkinkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk ngambil itu.

Sekali lagi, Allah tunjukkan keajaibannya. Allah rengkuh kasih sayangNya. Allah curahkan segala pertolonganNya.
Saya gak akan pernah berhenti berdoa, gak pernah. Karena di momen-momen berdoa itulah saya berasa lagi curhat sama Kekasih. :')

Saya pernah lalai. Allah peluk saya. Baru setelah beberapa lama, saya menyadari kehangatan pelukanNya dan kemudian saya menyesal.... "kenapa tidak dari dulu menyadarinya..."

Yoms ikhwah, udah ya, kita gak boleh nyerah sama masalah.
justru ketika kita lagi dirundung masalah, Allah sebenarnya lagi meluk kita seerat-eratnya. Jangan lepas. Peluk balik. .....

Refleksi Hayati dan Zainudin

Kali kedua nonton Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wircjk.

Kesejatian cinta.
Ketulusan cinta.

Aku jadi ingin berangan.
Tapi terbantah oleh seseorang yang pernah mengatakan padaku "Jangan sering berangan."
Kalau begitu, apa boleh jika diganti dengan bercita-cita?"

Biar ku ceritakan sedikit.
Hayati dan Zainudin adalah dua insan yang saling mencinta. Namun adat memutuskan mereka tidak bisa menikah. Akhirnya Hayati menikah dengan seorang yang kaya raya bernama Aziz.
I can't imagine, bagaimana kehidupan Hayati seorang diri.
Dia punya harta, tapi tidak merasakan cinta.

Selepas Hayati menikah, Zainudin patah hati hingga depresi. Terpuruk ia dan terkunci dalam jebakan pikirannya sendiri. Hati dan harapannya dibawa oleh Hayati. Azhimat bukti cinta Hayati padanya seolah terbawa pergi bersama dengan inai yang terpatri di jari jemari Hayati.

Bersama Bang Muluk, sahabatnya. Zainudin memutuskan untuk merantau ke Batavia. Menulis dan terus menulis perasaan dan kesedihan hatinya. Jalan dan takdir akhirnya membawa Zainudin menjadi penulis terkenal dan diberi kepercayaan memimpin sebuah Perusahaan Surat Kabar di Surabaya.

Namanya berubah menjadi En. Shabir. Mashyur dan terkenal ia.

Hingga hari pertemuan itu datang lagi.
Opera "Teroesir" yang mengangkat cerita dari buku karangannya dilaksanakan di rumah Zainudin. Disitulah Hayati, Aziz, dan Zainudin bertemu kembali. Saat itu, Aziz sedang mengalami kerugian, seluruh hartanya habis tersita akibat hutang. Zainudin membantu, memberikan tempat tinggal untuk Aziz dan Hayati dirumah bersamanya.

Gejolak cintanya pada Hayati tidak padam.
Namun, kekecewaan akan harapan kosong Hayati lebih dominan.
Di akhir cerita, Aziz pergi, menceraikan Hayati kemudian mati karena overdosis.

Dalam hati Hayati, angan-angan bersatu dengan Zainudin muncul kembali.
Tentu, harapannya sangat besar.
Ia yakin Zainudin masih mencintainya. Sebab terpampangnya lukisan wajahnya di ruangan kerja Zainudin.

Keberanian Hayati membawanya untuk mengatakan bahwa ia siap hidup bersama Zainudin, bahwa ia masih sangat mencintai Zainudin.

Alih-alih memeluk Hayati, Zainudin memberikan jawaban yang bertolakbelakang dengan angan-angan Hayati.

Ia tumpahkan segala rasa kecewanya pada Hayati. Ia sebut Hayati sebagai orang yang paling kejam hingga membuatnya menderita. Membuatnya menjadi sangat dikucilkan masyarakat dan akhirnya pergi meninggalkan Padang Panjang.
Zainudin memutuskan, Hayati harus dipulangkan ke Padang. Dan dia tanggung semua keperluan Hayati.

Sakit. Tak ubahnya ranting kuat yang dipaksa untuk patah. Hayati menangis sejadi-jadinya.

Namun ia menurut, dengan berat hati ia berangkat pulang ke Padang menaiki Kapal Van Der Wijck. Firasatnya, ia akan tenggelam.
Dititipkannya surat untuk Zainudin berisikan bahwa ia selamanya akan mencintai Zainudun. Bahkan hingga maut menjemputnya.

Setelah membaca surat cinta terakhir Hayati, Zainudin tergugah. Seluruh hatinya adalah milik Hayati. Dan sudah cukup kemarahannya terbalaskan. Ia akan menjemput Hayati kembali.

Namun terlambat, Kapal Van Der Wijck telah tenggelam. Hayati telah terluka parah. Beruntung mereka sempat bertemu.

Belum sempat cinta mereka tercatat dalam ikatan pernikahan. Hayati kembali 'pulang' pada Tuhan.
Meninggalkan Zainudin yang merana dan tetap berusaha menghidupkan Hayati dalam karya dan tulisannya.

-----

Baiklah.
Duhai calon Imam ku dimanapun berada.
Cerita itu menyedihkan, ya?

Kalah begitu. Kita tinggalkan kisah Hayati dan Zainudin.
Dan kita hidupkan kisah kita bersama-sama.

Sampai detik ini, aku belum tahu seperti apa rupamu dan dimana tempatmu menebar kebaikan sekarang.
Bisa jadi kita dekat, atau bahkan terpisahkan jarak yang teramat. Ku kira engkau pun sama. Tidak tahu juga kalau masa depan kita akan bersama.

Tapi tapi...
Meski kita belum pernah bertemu ataupun bertegur sapa.
Semoga suatu saat kita bisa saling berkata dengan sejujurnya. Tanpa menyembunyikan rasa seperti halnya Zainudin di akhir cerita.

Biar jarak ini terus terjaga sampai waktu yang digariskan tiba.

Biar aku tidak perlu nangis mengemis.
Biar engkau tidak perlu lelah menyembunyikan.

Kita tidak sama-sama menunggu kan?
Namun kita menuju.

Lanjutkan setiap karyamu.
Dan aku pun begitu.

Sampai bertemu nanti.
Saat rasa cinta pertama kali akan kita hadirkan.
Selepas saksi mengatakan 'sah'.
Dan arsy'Nya telah terguncang akibat ijabmu.

Mimpi

Malam ini aku termenung.
Menyelami kertas-kertas bertuliskan impian dan citaku.
Sesaat sebelumnya, aku mendapat kabar tentang seorang kawan yang sedang melanglang buana dengan karirnya.
Sedang aku..
Ku lihat lagi baris tulisan tangan tak beraturan itu..
Dalam hati. Kenapa tak tuliskan mimpi seperti dia? Mengapa?

Lagi.
Berkhayal waktu akan kembali dan membawaku pada titik dimana aku memulai segalanya.
Tidak.
Aku sama sekali tidak bisa.
Berkali aku coba kelit angan itu, tak ayal hanya membuatku menitikkan air mata

Duhai Cinta,
Aku mohon untuk terus yakinkan aku pada cita yang aku tuliskan ini.
Sejak ia tercipta dan menjadi sebuah kalimat, aku telah yakin bahwa INILAH DIRIKU

Duhai Cinta,
Berkali aku harus menyadari untuk tidak hidup pada mimpi orang lain
Untuk tidak berjalan di belakang orang lain dan hanya jadi pengikutnya
Untuk tidak sekedar melakukan, tapi juga meresapi dengan cinta tiap tiap langkah dan gemulainya

Duhai Cinta,
Izinkan aku untuk terus istiqomah dengan apa yang telah terpatri disini
Meskipun ia tidak akan dilihat oleh dunia, tapi izinkan ia untuk tetap sampai pada Ridho Mu
Meskipun ia hanya berupa sentuhan-sentuhan lembut pada jiwa yang membutuhkan kehangatan, izinkan ia tetap mendapat contreng ibadah padaMu
Meskipun ia hanya tentang mengabdi pada tiap tapak negerimu, izinkan ia untuk tetap bisa menggema diudara syurgaMu

Duhai Cinta,
PadaMu ku titipkan kata-kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat heroik ini

Dari seorang yang sering dipertanyakan apa tujuannya
Dari seorang yang sering dipertanyakan apa prestasinya...

Izinkan ia untuk tetap tegar, kuat, serta tangguhkan pada perjuangan tidak main-main ini
Izinkan ia untuk terus bersahaja
Memberikan kursi-kursi istimewa pada orang-orang yang akan mendunia dengan jalan itu
Dan ia, kan yakin bilik rotan tempatnya mengajarkan ilmu tentang kehidupan adalah tempat singgah istimewanya

Manajemen Kaos Kaki, dan Manset untuk Muslimah


[Manajemen Kaos Kaki, dan Manset untuk Muslimah]
.
"Duh, kaos kaki hari ini gak ada yang bersih. Terpaksa deh pake kaos kaki kemarin (ups). 
Eh, atau beli baru, aja? Tapi minggu lalu baru beli.
Atau... gak usah pake? 
Dududuh. Astaghfirullah.
Ahaaa. Ini ada kaos kaki punya adek sekolah. Pinjem dulu ah, nanti sore baru nyuci semua kaos kaki."
-Dan Sabiya pergi dengan kaos kaki warna hitam berlambang pramuka.
.
Ukhty, pernah gak mengalami hal itu?
Pernah merasa seriiing banget beli kaos kaki bermacam model, warna, motif, dan bermacam harga?
Pernah?
Saya juga. Hehe. Sering.
Atau.
Pernah gak merasa laperrrr mata untuk beli manset berbagai motif yang lucu2 dan bahan? Pernah?
Saya juga. Hehe. Sering.
.
Tapi kok, di saat-saat kedua benda ajaib itu dibutuhkan. Kadang kala tidak ready untuk dipakai, yha? 
Atau ketika harus safar berhari2 dan kaos kaki yang tersedia cuma 2 atau bahkan cuma 1. 
Duh, jangan sampe ngalamin (lagi).
Dan akhirnya harus beli kaos kaki baru.
.
Nah, sebagai Muslimah yang sedang belajar berjilbab syar'i. Kaos kaki dan Manset tangan adalah 2 benda yang wajib kita punya.
Kenapa? Karena kita butuh untuk menutup kaki, dan punggung tangan kita dengan sempurna.
Kadang kala, kita (terutama saya) menyepelekan 2 benda tersebut. Merasa "gak apa-apa" kalau gak pake. Laaah, ujung-ujungnya gak nyaman sendiri kalau harus menjulurkan tangan (kalau gak pake manset).
.
Kaos Kaki dan Manset harus dijaga ketersediaannya.
Kenapa?
Karena seorang Muslim itu harus bersih.
Jadi, semua pakaian yang kita pakai jiga harus terjaga kebersihannya. 
Caranya?
Usahakan berganti kaos kaki setiap hari.
Usahakan manset dicuci setelah pemakaian 2-3 kali atau kena kotor.
Nah, dari hal sederhana ini. Sedikitnya kita sudah bisa menunjukkan bahwa muslimah itu senantiasa menjaga kebersihan dirinya.
.
Tips.
Manajemen kaos kaki dan manset itu penting, lho.
Masalah yang sering teejadi adalah "hilang pasangan". Hoaah.
Kalau udah gini, mau dipake juga gak bisa. Padahal masih bagus. Yha..
Maka dari itu, kita bisa memilih:
1. Mau dicuci setiap hari (cuci pake sabun, kucek, bilas, jemur berdampingan biar gak ilang)
2. Mau dicuci rapelan (beberapa hari sekali. Metodenya sama. Dan wajib dijemur berdampingan)
Nah, selain itu. Jangan coba2 mencampur nyucinya dengan baju/kerudung.
Karena, rawan nyempil. Trus ilang.
Jangan juga minta dicuciin sama Ibu, atau khodimah, tapi kalau teman sih bolehlah ya. Hehe.
Karenaaaa, yakali, maluuu. Dan rawan ilang juga.
Jadi, kita harus tau. Jumlah kaos kaki kita berapa. Bisa untuk dipakai berapa hari.
Setelah dijemur, jangan lupa di angkat dan langsung di gabungkan dengan pasangannya. *ciee. 
.
Dengan hal ini, ada beberapa keuntungan yang bisa kita dapatkan nih Muslimah, diantaranya:
1. Mandiri (cailah. Yaiyalah. Udah gede)
2. Gak bingung pake kaos kaki/manset apa. Kalau perlu buat jadwal untuk masing2 kaos kaki, kalau untuk Manset sesuaikan dengan baju/kerudung. (Girly abis)
3. Belajar Inventaris. (Ngasal nih, tapi biar kita lebih aware sama benda yg kita punya.)
4. IRIT. (Yoi, karena harga kaos kaki sudah mahal skrg, seharga bakso. Jadi lebih baik jika tidak urgent, gak usah beli dulu. Enakan dibuat sedekah uangnya, saik.)
.
Nah.
Apalagi yang penting buat menjaga Mereka?
1. Sediakan tempat khusus.
Kalau yg digambar ini, asal muasalnya adalah kardus Sepatu. Sepatunya udah rusak. Kardusnya masih ada.
Bisa jadi tempat mereka bersemayam sebelum digunakan, toh?
Gak perlu modal.
Cukup gunting, gunting, jadi.
Yang paling penting, manfaatnya. 
Syukur-syukur setelah ini kita semakin istiqomah. Dan bersemangat untuk menjalani aktivitas.
Sebab ada 2 pertanyaan penting yang sudah bisa kita jawab setiap pagi.
.
Satu: Pakai kaos kaki apa hari ini? -yang warna biru ah.
Dua: Pakai manset apa hari ini? -pakai warna Ijo Tosca sesuai jilbab.
.
Beres, kan?
😆
Semoga sharing absurd ini ada manfaatnya.
Yuk, keep cleaning.
.
Nb: yang di Foto bersih semua ya. Dan ready to use. Mau pinjem boleeh..

Yuk Mulai Latihan Memanah



Yuk, Belajar Memanah.
Catatan setelah kegiatan "Trial Achery with YISC & King's Archery Club"
Belajar memanah itu kenapa jadi salah satu hal yang penting untuk kita?
Memangnya apa sih manfaat belajar memanah?
Hari ini, saya berkesempatan untuk belajar memanah yang di support oleh King's Archery Club & YISC Al-Azhar.
Sejak mencoba olahraga ini, saya sudah cukup tertarik untuk mempelajarinya. Terlebih olahraga ini merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah.
Kesan yang timbul ketika pertama kalinya yaitu di acara Jambore Anak Baik Indonesia tahun 2015. Menarik busur dan melepas anak panah ke target itu.... cukup sulit, arrownya melesat jauh (tidak tepat target), dan teknik saya masih dinilai 'jelek' oleh coach.
Didepan adik-adik fisil pun saya hanya bisa cengar-cengir. Hehe.
Alhamdulillah, walaupun sekarang lepasan saya belum selalu mengenai target kuning, setidaknya tekniknya masih oke-lah untuk dibuat poto-poto. Hehe.
Nah sekadar sharing. Apasih yang harus dijadikan motivasi saat mau memulai menyukai olahraga memanah?
Berawal dari hadist,
"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah." (HR. Muslim, Tirmidzi)
Tuh kan, jadi memang sebagai muslim, kita musti tahu bahwa Memanah adalah salah satu olahraga sunnah.





Coach Hikmatiar dari King's Archery pun menambahkan manfaat kesehatan mengapa memanah dapat dikategorikan sebagai salah satu cabang olahraga, diantaranya:
1. Memanah bisa membuat otot kuat (coba dikalikan, jika kita mempunyai 3 arrow, lalu masing2nya kita shoot sebanyak 15 kali. Maka dalam sehari saja kita sudah menarik beban 10 kg (beban rata-rata tiap busur) dikali 45 = 450 kg))
2. Memanah dapat membentuk postur tubuh.
Saat memanah, teknik pertama yang harus dilatih adalah berdiri tegak, semakin sering kita berlatih, maka postur tubuh kita akan senantiasa terbiasa tegak.
3. Memanah dapat melatih kefokusan.
How come? Yes. Karena sebelum melepaskan anak panah, harus dipastikan kita melihat target utama dengan jelas. (Ah, itu mah gampang.) Eits, tapi jangan meremehkan. Kalau tidak fokus, bisa-bisa arrow malah meleset  jauh dari target. Coach Hikmatiar pun sudah membuktikannya, sekarang beliau cenderung lebih fokus dan tenang saat menghadapi sesuatu (yesaaah).
Nah yang ke-4 ini menurut pendapat saya,
4. Memanah dapat membuat kita berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Etika dalam memanah adalah tidak melepaskan arrow ketika ada orang di sekitar target (walaupun posisinya jauh), tidak sembarangan bermain arrow (apalagi hanya untuk bergaya) karena resikonya bisa jadi arrow lepas dalam keadaan bertenaga.
So, ketika latihan memanah, gak boleh ada yang buru-buru atau gegabah. Sebab kita wajib menjaga keselamatan satu sama lain.




Nah, jadi penasaran kan gimana asyiknya kalau kita bisa berlatih memanah setiap hari?
Apalagi nih ya, karena ini merupakan sunnah. Yang kita ketahui bahwa hukum sunnah adalah "jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan kita akan rugi".
Maka, insyaa Allah.
Langkah kaki kita menuju tempat latihan berbuah pahala, setiap tarikan busur panah berbuah pahala, usaha kita untuk melepaskan arrow dari papan target berbuah pahala, dan jika itu semua dilakukan benar-benar untuk ibadah, Maka, Allah lah sebaik-baik pemberi pembalasan.
Yuk, kita memulai belajar memanah.
Depok, 11 Maret 2017
-Catatan sederhana dari newbie archer-
Putri Humairoh

Orang Betawi

Orang Betawi
.
Ialah aku. Yang dari kecil tinggal di ujung Timur dari Jakarta. Di dekat perbatasan Jawa Barat dan DKI Jakarta, yang sampai sekarang pun batas pemisahnya adalah sebuah sungai dengan arus air yang sangat deras. Bahkan seringkali banjir.
Namun, perbatasan tetaplah perbatasan. Walaupun katanya Ibukota, namun di perbatasan daerah tetaplah dalam keadaan yang sunyi. Mitos-mitos masih menghinggapi. Hampir setiap hari aku lewati perbatasan ini pada malam hari. Tentu saja, sendiri.
Namun, pasti ada yang berbeda.
Tidak seperti perbatasan pada masa dulu, kira-kira belasan tahun lalu. Tiap kali harus melewati perbatasan ini. Dingin mencekam. Ah. Seram.
.
Ialah daerah rumahku.
Sebuah Desa di ujung Timur Jakarta. Yang jarang sekali aku lihat bus-bus besar lalu-lalang. Kecuali memang bus yang dipesan khusus untuk transportasi jalan-jalan warganya keluae kota.
Ah, rasanya disini masih aman-aman saja aku kesana kemari tanpa helm.
.
Ialah Desaku. Tempat yang jauh dari kata metropolitan. Aku hampir tidak melihat kekacauan disini. Ya, kira-kira sampai radius 5km desaku masih sangat asri. Walaupun memang, ciri khas Ibukota adalah kepadatannya. Tapi di sudut desa, masih bisa ku lihat jejeran sawah dan kebun, pemancingan dan rekreasi danau.
.
Ialah rumahku. Yang belasan tahun lalu halamannya masih sangat luas-luas-luas sekali. Kalau kau lihat lapangan bola kampus? Itulah halaman rumahku. Tempat Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan, Tempat idola para pengantin untuk mengadakan hajatan.
Yap, ini adalah rumah utama dari seluruh keluarga besar Kakek-ku dari Ibu. Tempat kami sekeluarga besar berkumpul dalam kehangatan yang tidak dibuat-buat.
Dahulu,
Disamping rumah kami terdapat pohon-pohon buah rambutan segala jenis, pohon melinjo, pohon pepaya, pohon kenanga, pohon kecapi, bahkan pohon cokelat yang penuh mistis itu.
Hari ini ada jadwal makan apa? Tinggal petik dari kebun.
.
Ialah rumah Kakek-ku dari Ayah. Hanya beda 1 kecamatan dari rumahku. Desa Ciracas. Dekat sekali bukan?
Yap, bisa dipastikan aku anak betawi tulen. Yang sehari-harinya berkuat di Jakarta.
Tentang Merantau? Bukankah aku sudah berada di tempat para perantau menuju? Mau merantau kemana lagi?
.
Ialah saudara-saudaraku. Yang hampir setiap sore setelah kita belajar mengaji, kita bermain bersama. Jadwal hari ini bermain apa? Petak umpet? Bete Gunung? Karet? Bentengan? Mau apa? Main dimana?
Tinggal ketuk pintu tetangga, lalu kita bermain bersama.
.
Ialah Ramadhan, Bulan penuh Cahaya di Desa kami.
Walaupun katanya di Ibukota, tradisi ngarak api obor menyambut Bulan Ramadhan masih jadi idola. Beruntung aku masih mengingat masa-masa menyalakan obor dengan korek api. Berkonvoi keliling desa sembari bercengkrama dengan kawan disekolah dan pengajian.
.
Ialah Masa kecilku, yang tetap merindu masa-masa lapang dan kenangan.
Tentang gadget?
Bahkan bisa menonton TV yang sudah ada warnanya saja kami sudah merasa senang.
.
Kita punya kenangan masa kecil yang sama kah?
.
Yap, inilah Desaku. Desa Kalisari di ujung Jakarta Timur. Kalau di peta, langsung saja mata kalian menuju Depok. Dia ada disebelahnya.

Aku Meridhoi Kesederhanaanmu

Sejak dahulu hingga sekarang, kisah cinta Ali RA dan Fathimah RA selalu menjadi idaman semua ikhwan dan akhwat yang merindu kezuhudan dalam berumah tangga.
Begitu pun aku.

Bukan hanya tentang Zuhud, 2 insan pilihan Allah ini sangat pandai menyimpan rasa cinta. Hingga syaitan-syaitan pun dikelabuhinya. Tidak ada yang mengetahui. Bahkan dinding-dinding rotan, atau baju besi Ali AS pun tidak mengetahui gejolak cintanya. Begitu rapat ditutup. Begitu sakral dijaga. Begitu shalih disikapi. Kalau bukan oleh Insan dengan iman yang kuat, apa bisa? Allahu a'lam.

Hari ini, 1400 tahun kemudian.
Adalah aku. Yang juga rindu untuk menjadi sosok Fathimah. Anak perempuan Baginda Rasulullah SAW. Yang begitu salihah, santun, lembut, serta zuhudnya.

Adalah aku. Yang juga meridhoi laki-laki yang sederhana dan mampu menjaga diri. Bahkan tidak ada satu katapun ia memperlihatkan kebaikan dalam dirinya. Namun semesta, tidak akan mampu untuk menyembunyikan kedahsyatan imannya.

Adalah aku. Wanita akhir zaman yang hiruk pikuk hidupnya dipenuhi dengan dinamika dan fitnah merajalela. Barangkali memang, beberapa kali setan menang atas dirinya. Tapi berulang kali pula, aku mencoba melawan dan terus melawan.

Adalah ia. Sosok Ali yang tiada pernah aku bisa gambarkan wajahnya. Namun kepribadiannya, bagaikan ksatria yang siap berperang. Tidak peduli meski hambatan menghadang.

Adalah ia. Sosok Ali yang namanya masih Allah rahasiakan. Namun, Allah telah menunjukkan siapa dan bagaimana.

Adalah aku dan dia. Kelak.
Yang tanpa kita ketahui, kita pernah melalui dinamika hidup serupa. Merasakan titik perjuangan serupa. Serta tetap menuju titik yang sama.

Iya, memang betul.
Iman dan Akhlak mulia akan menjadikan aku tsiqoh, patuh, taat, dan hormat.
Dan kesederhanaan akan membuat aku jatuh cinta.

Wallahi. Aku ridho.