Yuk Mulai Latihan Memanah



Yuk, Belajar Memanah.
Catatan setelah kegiatan "Trial Achery with YISC & King's Archery Club"
Belajar memanah itu kenapa jadi salah satu hal yang penting untuk kita?
Memangnya apa sih manfaat belajar memanah?
Hari ini, saya berkesempatan untuk belajar memanah yang di support oleh King's Archery Club & YISC Al-Azhar.
Sejak mencoba olahraga ini, saya sudah cukup tertarik untuk mempelajarinya. Terlebih olahraga ini merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah.
Kesan yang timbul ketika pertama kalinya yaitu di acara Jambore Anak Baik Indonesia tahun 2015. Menarik busur dan melepas anak panah ke target itu.... cukup sulit, arrownya melesat jauh (tidak tepat target), dan teknik saya masih dinilai 'jelek' oleh coach.
Didepan adik-adik fisil pun saya hanya bisa cengar-cengir. Hehe.
Alhamdulillah, walaupun sekarang lepasan saya belum selalu mengenai target kuning, setidaknya tekniknya masih oke-lah untuk dibuat poto-poto. Hehe.
Nah sekadar sharing. Apasih yang harus dijadikan motivasi saat mau memulai menyukai olahraga memanah?
Berawal dari hadist,
"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah." (HR. Muslim, Tirmidzi)
Tuh kan, jadi memang sebagai muslim, kita musti tahu bahwa Memanah adalah salah satu olahraga sunnah.





Coach Hikmatiar dari King's Archery pun menambahkan manfaat kesehatan mengapa memanah dapat dikategorikan sebagai salah satu cabang olahraga, diantaranya:
1. Memanah bisa membuat otot kuat (coba dikalikan, jika kita mempunyai 3 arrow, lalu masing2nya kita shoot sebanyak 15 kali. Maka dalam sehari saja kita sudah menarik beban 10 kg (beban rata-rata tiap busur) dikali 45 = 450 kg))
2. Memanah dapat membentuk postur tubuh.
Saat memanah, teknik pertama yang harus dilatih adalah berdiri tegak, semakin sering kita berlatih, maka postur tubuh kita akan senantiasa terbiasa tegak.
3. Memanah dapat melatih kefokusan.
How come? Yes. Karena sebelum melepaskan anak panah, harus dipastikan kita melihat target utama dengan jelas. (Ah, itu mah gampang.) Eits, tapi jangan meremehkan. Kalau tidak fokus, bisa-bisa arrow malah meleset  jauh dari target. Coach Hikmatiar pun sudah membuktikannya, sekarang beliau cenderung lebih fokus dan tenang saat menghadapi sesuatu (yesaaah).
Nah yang ke-4 ini menurut pendapat saya,
4. Memanah dapat membuat kita berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Etika dalam memanah adalah tidak melepaskan arrow ketika ada orang di sekitar target (walaupun posisinya jauh), tidak sembarangan bermain arrow (apalagi hanya untuk bergaya) karena resikonya bisa jadi arrow lepas dalam keadaan bertenaga.
So, ketika latihan memanah, gak boleh ada yang buru-buru atau gegabah. Sebab kita wajib menjaga keselamatan satu sama lain.




Nah, jadi penasaran kan gimana asyiknya kalau kita bisa berlatih memanah setiap hari?
Apalagi nih ya, karena ini merupakan sunnah. Yang kita ketahui bahwa hukum sunnah adalah "jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan kita akan rugi".
Maka, insyaa Allah.
Langkah kaki kita menuju tempat latihan berbuah pahala, setiap tarikan busur panah berbuah pahala, usaha kita untuk melepaskan arrow dari papan target berbuah pahala, dan jika itu semua dilakukan benar-benar untuk ibadah, Maka, Allah lah sebaik-baik pemberi pembalasan.
Yuk, kita memulai belajar memanah.
Depok, 11 Maret 2017
-Catatan sederhana dari newbie archer-
Putri Humairoh

Orang Betawi

Orang Betawi
.
Ialah aku. Yang dari kecil tinggal di ujung Timur dari Jakarta. Di dekat perbatasan Jawa Barat dan DKI Jakarta, yang sampai sekarang pun batas pemisahnya adalah sebuah sungai dengan arus air yang sangat deras. Bahkan seringkali banjir.
Namun, perbatasan tetaplah perbatasan. Walaupun katanya Ibukota, namun di perbatasan daerah tetaplah dalam keadaan yang sunyi. Mitos-mitos masih menghinggapi. Hampir setiap hari aku lewati perbatasan ini pada malam hari. Tentu saja, sendiri.
Namun, pasti ada yang berbeda.
Tidak seperti perbatasan pada masa dulu, kira-kira belasan tahun lalu. Tiap kali harus melewati perbatasan ini. Dingin mencekam. Ah. Seram.
.
Ialah daerah rumahku.
Sebuah Desa di ujung Timur Jakarta. Yang jarang sekali aku lihat bus-bus besar lalu-lalang. Kecuali memang bus yang dipesan khusus untuk transportasi jalan-jalan warganya keluae kota.
Ah, rasanya disini masih aman-aman saja aku kesana kemari tanpa helm.
.
Ialah Desaku. Tempat yang jauh dari kata metropolitan. Aku hampir tidak melihat kekacauan disini. Ya, kira-kira sampai radius 5km desaku masih sangat asri. Walaupun memang, ciri khas Ibukota adalah kepadatannya. Tapi di sudut desa, masih bisa ku lihat jejeran sawah dan kebun, pemancingan dan rekreasi danau.
.
Ialah rumahku. Yang belasan tahun lalu halamannya masih sangat luas-luas-luas sekali. Kalau kau lihat lapangan bola kampus? Itulah halaman rumahku. Tempat Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan, Tempat idola para pengantin untuk mengadakan hajatan.
Yap, ini adalah rumah utama dari seluruh keluarga besar Kakek-ku dari Ibu. Tempat kami sekeluarga besar berkumpul dalam kehangatan yang tidak dibuat-buat.
Dahulu,
Disamping rumah kami terdapat pohon-pohon buah rambutan segala jenis, pohon melinjo, pohon pepaya, pohon kenanga, pohon kecapi, bahkan pohon cokelat yang penuh mistis itu.
Hari ini ada jadwal makan apa? Tinggal petik dari kebun.
.
Ialah rumah Kakek-ku dari Ayah. Hanya beda 1 kecamatan dari rumahku. Desa Ciracas. Dekat sekali bukan?
Yap, bisa dipastikan aku anak betawi tulen. Yang sehari-harinya berkuat di Jakarta.
Tentang Merantau? Bukankah aku sudah berada di tempat para perantau menuju? Mau merantau kemana lagi?
.
Ialah saudara-saudaraku. Yang hampir setiap sore setelah kita belajar mengaji, kita bermain bersama. Jadwal hari ini bermain apa? Petak umpet? Bete Gunung? Karet? Bentengan? Mau apa? Main dimana?
Tinggal ketuk pintu tetangga, lalu kita bermain bersama.
.
Ialah Ramadhan, Bulan penuh Cahaya di Desa kami.
Walaupun katanya di Ibukota, tradisi ngarak api obor menyambut Bulan Ramadhan masih jadi idola. Beruntung aku masih mengingat masa-masa menyalakan obor dengan korek api. Berkonvoi keliling desa sembari bercengkrama dengan kawan disekolah dan pengajian.
.
Ialah Masa kecilku, yang tetap merindu masa-masa lapang dan kenangan.
Tentang gadget?
Bahkan bisa menonton TV yang sudah ada warnanya saja kami sudah merasa senang.
.
Kita punya kenangan masa kecil yang sama kah?
.
Yap, inilah Desaku. Desa Kalisari di ujung Jakarta Timur. Kalau di peta, langsung saja mata kalian menuju Depok. Dia ada disebelahnya.

Aku Meridhoi Kesederhanaanmu

Sejak dahulu hingga sekarang, kisah cinta Ali RA dan Fathimah RA selalu menjadi idaman semua ikhwan dan akhwat yang merindu kezuhudan dalam berumah tangga.
Begitu pun aku.

Bukan hanya tentang Zuhud, 2 insan pilihan Allah ini sangat pandai menyimpan rasa cinta. Hingga syaitan-syaitan pun dikelabuhinya. Tidak ada yang mengetahui. Bahkan dinding-dinding rotan, atau baju besi Ali AS pun tidak mengetahui gejolak cintanya. Begitu rapat ditutup. Begitu sakral dijaga. Begitu shalih disikapi. Kalau bukan oleh Insan dengan iman yang kuat, apa bisa? Allahu a'lam.

Hari ini, 1400 tahun kemudian.
Adalah aku. Yang juga rindu untuk menjadi sosok Fathimah. Anak perempuan Baginda Rasulullah SAW. Yang begitu salihah, santun, lembut, serta zuhudnya.

Adalah aku. Yang juga meridhoi laki-laki yang sederhana dan mampu menjaga diri. Bahkan tidak ada satu katapun ia memperlihatkan kebaikan dalam dirinya. Namun semesta, tidak akan mampu untuk menyembunyikan kedahsyatan imannya.

Adalah aku. Wanita akhir zaman yang hiruk pikuk hidupnya dipenuhi dengan dinamika dan fitnah merajalela. Barangkali memang, beberapa kali setan menang atas dirinya. Tapi berulang kali pula, aku mencoba melawan dan terus melawan.

Adalah ia. Sosok Ali yang tiada pernah aku bisa gambarkan wajahnya. Namun kepribadiannya, bagaikan ksatria yang siap berperang. Tidak peduli meski hambatan menghadang.

Adalah ia. Sosok Ali yang namanya masih Allah rahasiakan. Namun, Allah telah menunjukkan siapa dan bagaimana.

Adalah aku dan dia. Kelak.
Yang tanpa kita ketahui, kita pernah melalui dinamika hidup serupa. Merasakan titik perjuangan serupa. Serta tetap menuju titik yang sama.

Iya, memang betul.
Iman dan Akhlak mulia akan menjadikan aku tsiqoh, patuh, taat, dan hormat.
Dan kesederhanaan akan membuat aku jatuh cinta.

Wallahi. Aku ridho.

Hakikat Hidup

Jadi, boleh ku pakaikan bunga ini untukmu, Dik?
.
.
Eh tapi jangan, memetiknya hanya akan membuat dia layu. Dik, dahulu aku begitu mudah mencabut bunga indah yang aku lihat; namun tahukah kalau itu malah menyiksanya? Bukan malah memuliakannya?
Setelah ia dipetik, maka ia hanya menunggu waktu untuk layu dan busuk. Dik, aku tak ingin menyiksanya. Sedikitpun tidak. Karena aku juga tidak ingin dipetik, lalu dibiarkan layu dan membusuk
.
Dik, kita tahu bukan bahwa bunga ini juga membutuhkan makanan? Membutuhkan batang dan daun untuk berkembang? Membutuhkan akar untuk kuat bermekaran? Maka membiarkannya tetap ditempatnya adalah cara terbaik untuk menyayanginya. Seperti halnya kamu dan aku, Dik. Membutuhkan makanan. Membutuhkan tempat untuk tumbuh. Membutuhkan akar untuk terus mekar
.
Hingga suatu hari, Allah sendiri yang menjatuhkan bunga ini. Melepaskan badannya dari batang yang menopangnya. Perlahan-lahan angin membuatnya terlepas. Pelan. Pelan. Dan bunga ini terbang terbawa angin ketempat yang tidak tahu dimana
.
Seperti hal nya aku dan tentunya kamu, suatu hari. Di waktu yang tepat. Allah akan lepaskan juga ruh dengan jiwa
.
Dik, sebenarnya simpel saja. Saat kita bersama-sama bermain dengan alam. Jangan mengambil apapun, kecuali gambar. Jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu
.
Sekalipun ada bunga yang telah gugur, jangan dibawa pulang. Biar kan ia menjadi pupuk untuk rumahnya dan saudaranya yang lain
.
Bukankah itu hakikat hidup?
Khairunnas anfauhum linnas 😊
#SaveEarth
#BagianDariMemeliharaBumi

Ketika Jakarta Menjadi Dingin

Ketika Jakarta Menjadi Dingin.
.
Akhir-akhir ini cuaca di Jakarta, Depok, dan sekitarnya sedikit berbeda.
Biasanya selalu panas mulai dari pagi hingga sore.
Sekarang suhunya selalu kisaran 20-an derajat.
Gerimis dominan muncul.
Matahari lebih seneng sembunyi.
Membuat baju yang udah dikeringin di mesin cuci selama 2 menit pun harus lama keringnya.
.
Ada apakah gerangan?
Awan selalu terlihat menghitam.
Sesekali bergeser sedikit menjadi agak keabuan.
Memang, beginilah suasana yg ku idamkan.
Tapi jika terjadi di sini...
Rasanya aku tak siap.
Apalagi jika merasakan sensasi hujan dipagi hari.
Adik-adik harus mengumpulkan semangat yg lebih ekstra untuk sekolah.
Pun begitu yg bekerja.
Harus siaga bawa spare baju ganti.
Pun begitu bagi freelance yg jadwal meetingnya padet, makin makin padet, karena ditambah 1 jadwal yaitu selimutan.
Sedangkan ku lihat cucian yg baru kering numpuk hingga 3 ember.
Belum lagi list-list laporan yang nagih untuk di seriusi.
.
Oh yayaya.
Ketika Jakarta menjadi begitu dingin.
Jaket sport yg tipis kurang lagi mampu sembunyikan bulu kuduk.
Aih, Jakarta.
Cukup dia aja yg dingin. Kamu anget aja..

Boikot Sari Roti? Jadi Kudu Piye?

Sari Roti.. Roti Sari Roti..

Yap, begitulah kira-kira bunyian nyaring dari speaker mungil di gerobak roti si abang penjual roti keliling dengan merk Sari Roti.

3 hari kebelakang (mulai hari Selasa, 6 Desember 2016). Viral sekali dunia maya dengan Klarifikasi dari Sari Roti menanggapi keberadaan Roti gratis dari sang dermawan muslim. SR mengklaim bahwa pembagian roti secara gratis ini bukan dilakukan oleh pihak pusat SR, sip, oke. Lalu pembagian roti gratis juga tanpa persetujuan dari pihak SR, sip, oke. Lalu SR mengatakan bahwa menjunjung tinggi Kesatuan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, sip, oke. Lalu SR juga mengatakan bahwa tidak ikut campur dalam kepentingan politik, sip, oke.

Secara pribadi (karena belum berkeluarga), saya meng-oke-kan klarifikasi SR.
Lah iya dong? Trus saya kudu piye?
Orang kan lagi tabayyun (konfirmasi) jadi wajib disimak, dan di respons.
Sehingga dengan klarifikasi itu (yang sebenarnya gak penting juga untuk di release) berdampak pada tanggapan yang heterogen dari masyarakat khususnya ummat muslim.
Ada yang memboikot SR dengan cara tidak membeli produk SR lagi. Ada yang masih menghargai pegawai2 dan penjual keliling SR yang muslim, dan tetap membeli SR. Ada pula yang mengganggap bahwa klarifikasi tersebut adalah bukti bahwa SR netral dan tidak melakukan tindakan apa-apa.

Sejujurnya, saya juga bukan konsumen aktif SR. Karena sehari-hari sarapan saya adalah nasi uduk atau lontong sayur. Makan SR sesekali aja, kalau kebetulan pengen, ataupun dapat dari seminar. Jadi, masalah boikot (tidak membeli) bukan sesuatu yang sulit bagi saya.
Tapi, ada pertanyaan yang membuat saya jadi berpikir. Dan juga sebagian ummat bertanya-tanya.
Kalau SR gak dapat penjualan, otomatis berdampak pada penjual roti keliling (yang sekarang sudah mulai terlihat dampaknya), atau pegawai dan pabriknya yang bisa jadi jika terus menerus penjualan menurun, kemungkinan PHK pasti ada.
Lalu apa aksi boikot ini bisa dibilang "mematikan rezeki orang"?

Oke, kemudian saya telusuri lagi. Baca-baca tulisan logic dari seorang aktivis. Intinya begini, akibat klarifikasi tsb, kita jadi tau SR berpihak kemana?
Loh? Maksudnya gimana Pute?
Iya, jika dilihat dari segi bisnis, sesuatu yang gak penting gitu buat SR bikin klarifikasi untuk sesuatu yg sebenarnya akan meningkatkan personal brandingnya. Istilahnya promosi gratis. Konsumen nambah, akibat SR yg digratiskan oleh dermawan waktu aksi 212.
Namun, kayanya mah ada sesuatu yang "mendesak". Yang bikin harus banget SR bikin klarifikasi. Yang kayanya, kalo gak buat klarifikasi itu, dampaknya akan jauuuh lebih besar dibandingakan kehilangan market muslim. Iya gak sih?
Pasti ada opportunity cost yang diperhitungkan, kan?
Ibaratnya gini,
Ada sesuatu acara yang bertentangan dengan jati diri kita, trus disana ada produk jualan kita, dibagikan secara gratis (yang biasanya gratis2 gini adalah dari sponsor), nah padahal promotor acara itu yg beli dari agen, trus dibagiin. Karena tuh acara mungkin "gak bener" jadinya kita takuuut dimarahin orang tua, guru, atau sohib kita, terlebih Tuhan kita. Nah, supaya gak dikira kita support acara itu. Maka kita keluarin deh klarifikasi. Supaya yg kita takutin itu, percaya sama kita. Gak jadi marahin kita.
Masalah target pasar? Itu mah gampang, bisa cari lagi. Yang penting kepercayaan dari pihak "atas" tetap kita pegang.

Iya gak sih?

Oke, well. Terlepas dari ini semua.
Allah semakin nunjukin ya generasi-generasi Al-Maidah:52.
Yang sebenernya udah jelas banget keliatan. Jelaasssss banget.
Sehingga tugas kita adalah jauh-jauh deh tuh, dan deketnya sama Allah dan orang-orang yang taat juga sama Allah.
Karena ini masalah tauhidullah.
Susah digoyah, kan?
Ini soal prinsip yang dipegang teguh.
Masalah persaudaraan?
Islam gak pernah memusuhi selain Islam. Malah terus diajak, di temani, di sapa.
Karena Rasul pun ngajarinnya gitu, kan? :)
Gak ada yang perlu di takutkan dari aksi menunjukkan diri dan identitas muslim. Tapi eits, harus tetap hati-hati.
Terkadang banyak baiknya manusia itu bisa tidak terlihat akibat kesalahan keciiil yang diperbuat.

Sok, bagaimanapun itu..
Sari Roti tetaplah makanan halal.
Inget kan? Rasul kalau gak suka makanan, langsung ditinggalkan. Tanpa di cela dulu. Tanpa di katain dulu.
Jadi, gak ada lagi ya aksi injak-injak makanan (naudzubillah). Atau aksi buang makanan ke tempat sampah.
Gak boleh ya.
Karena Muslim sejati harus tetap memiliki akhlak yang baik. Sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah.

Tetap bermuamalah yg baik yaaa.

Dan for our beloved brother and sister Muslim pegawai dan penjual roti SR keliling.
Kita sama-sama percaya ya, kalau Allah itu udah ngasih jatah rezeki keee semua hambaNya, jadi kita gak usah takut kekurangan, atau kehilangan rezeki.
Kan, tumbuhan, hewan-hewan di dasar tanah aja Allah sudah kasih rezeki masing-masing. Apalagi manusia? Wah, Masyaa Allah deh.
Tetap dalam ikhtiar terbaik, insyaa Allah, Allah kasih berlipat-lipat rezekinya. Dikasihnya bukan karena kita merintih kelaparan, tapi karena Allah sayang kita.

Menetapkan Tujuan Hidup

Hari ini aku galau.
Beberapa pertanyaan menyeruak didalam benakku.
"Apakah diizinkan?"
"Ataukah penolakannya akan begitu dahsyat?"
"Apakah aku bisa meyakinkan?"
"Apakah aku siap dengan setiap omongan?"
"Apakah..
"Apakah...
"Apakah....
Deg.
Aku diam. Mengapa aku takut? Jika aku punya Allah, dan Allah selalu bersama hamba-hambaNya yang mau bermunajat padaNya. Aku berdoa, semoga aku termasuk didalamnya.
Tapi, bagaimana Yaa Allah?

Skip.
Beberapa hari lalu, Allah takdirkan aku bertemu dengan salah seorang adik angkatan 2015 di Research Camp Trisakti. Kami mengobrol panjang. Mulai dari bahasan tentang KSEI, Ekonomi Islam, Bank Syariah, hingga.....

"Kak Pute kan sekarang udah mau skripsi nih. Kakak, setelah lulus rencana mau lanjut kemana? Atau jadi apa?"

(Dalam hati)
Dalam nalarku. Aku bahkan tidak yakin apa yang akan aku ucapkan ini dapat terwujud dengan mulus. Aku bahkan tidak tau proses menuju ini akan melalui perdebatan panjang yang bagaimana. Aku bahkan malu untuk mengungkapkannya. Aku bahkan tidak yakin aku pantas. Aku.....

"Insyaa Allah, mau lanjut ngafal quran di Rumah Tahfidz."

(Dalam hati)
Yaa Allah, aku menangis dalam hati. Aku tidak mau riya'. Tapi aku ingin banyak doa mengiringi perjalananku. Aku ingin banyak orang meridhoi. Sehingga hati-hati yang belum menerima, akan semakin luluh.

"Kakak gak mau lanjut kuliah S2 dulu? Atau kerja dulu?"

Dik, hari ini aku duduk disini bukan sebagai apa-apa. Pengetahuanmu mungkin lebih banyak dariku. Dik, aku sudah ketinggalan jauh. Dik, aku ini....

"Insyaa Allah. Setelah selesai aku lanjut lagi. Tapi mungkin gak fokus ke ekis, tapi ke bidang lain, yaitu pendidikan."

Dik, tau gak? Hari ini adalah hari dimana aku rubah lagi planning mimpiku. Plin-plan memang. Tapi dik, seperti ada benturan yang menghantam kepalaku, sehingga membuat aku jatuh, melemah, dan tiada obat selain itu. Aku tidak mungkin berjalan dengan keadaan kepala berdarah, kaki pincang, dan mata buta. Aku ingin lebih pulih dari ini....

"Motivasi kakak apa kak?"

Kali ini, apa yang ada dihati, aku akan ungkapkan dik.

"Allah, dik. Aku udah banyak buang-buang waktu dik tanpa bekal apapun. Aku merasa banyak waktu aku yang sia-sia. Iyasih, aku mau lulus secara akademik. Tapi secara ruhani aku bolong. Usiaku udah gede. Tapi gak ada bekal apa-apa.:'D Sedangkan jika aku lihat sahabatku, bahkan adik-adik kelasku, mereka sudah jauh lebih siap hafalannya.
Aku ingin mengejar ketertinggalan.
Ohiya dik, aku belum pernah ngerasain jadi santri. Dari SD sampe Kuliah di tempat negeri.
Aku pengeeeen sekali tinggal dalam lingkungan yang tiap detiknya itu bener-bener kita gunakan buat mendekat sama Allah.
Maksudnya, bukan berarti sekarang gak bisa. Namun kalau lebih intensif kan jauh lebih baik.
Aku baru aja kenalan sama kakak akhwat. Dia alumni salah satu Universitas, dia lulus cepat, lalu dia coba lamar kerja. Eeeh, 2 minggu kerja, dia memutuskan untuk Menghafal Al-Quran di Rumah Tahfidz. Gak ada yang gak mungkin kok buat Allah. Terlebih buat diri aku yang masih hina ini."

"Trus kakak mau ngafalnya dimana?"

"Aku belum tau dik. Tantangan terbesarnya bukan dimana tempatnya. Karena sekarang udah banyak Rumah Tahfidz. Tapi.. restu orang tua. Dan kesiapan diri aku.
Aku mohon doanya, semoga selama beberapa bulan kedepan. Kakak bisa ishlah diri menjadi lebih baik, orang tua bisa ikhlas untuk mengizinkan. Karena kakak gak mungkin berjalan tanpa restu orang tua. Semoga Allah pahamkan bahwa anaknya ini ingin berbakti lebih dari materi. Doakan ya dik. Kakak mohon doanya."

.
.

Dan akhirnya, aku pun berkaca pada kata-kataku sendiri.
Dari sekian planning mimpi yang aku buat kemarin-kemarin, rasanya sangat jauh dari ketenangan batinku.
Allah sangat sangat sangat sangat baik pada seorang pute yang hina ini. Namun, aku yakin tidak ada yang kebetulan aku berada di lingkungan yang baik, bertemu dengan orang-orang baik, dan belajar hal dari mereka.
Aku yakin yakin yakin itu adalah takdir Allah untukku.
Pun di lingkungan yang lain, pasti ada alasan, pasti ada kebaikan.

Teman-teman, dari kejauhan, Pute mohon doa terbaik.
Demi Allah ini bukan ajang riya, sombong, takabbur, apalagi untuk menunjukkan kemampuan diri.
Karena tidak ada yang bisa Pute sombongkan, apa yang ada dalam diri ini pun bukan punya pute.

Tapi semoga teman-teman ikhlas dan ridho untuk mendoakan proses perjalanan ini.
Memberikan bacaan Surah Al-Fathihah.
Dan tentu Pute doakan hajat daripada teman-teman bisa terwujud.

Kita tidak tahu, dari sekian banyak doa, doa dari hati yang mana yang akan dikabulkan.

Terima kasih sudah saling mendoakan.

Allah bersama kita.
Allah bersama kita.
Jangan pernah takut berjalan, selama ini adalah jalanNya.