Guru?

Kalau kau ingin kaya harta, jangan coba-coba jadi guru.
Tapi jika kau ingin kaya hati, guru adalah profesi terbaik.

Aku senang melihat anak-anak yang antusias belajar. Bukan semata menunjukkan bahwa "Aku yang paling bisa." Tapi aku menganggap mereka adalah pejuang-pejuang.

Keluar dari rumah-rumah mereka untuk belajar bakda maghrib bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak millenial.
Kendati mereka tidak ada pekerjaan rumah untuk esok hari, mereka datang membawa pertanyaan-pertanyaan baru dan menantang diri mereka lebih dari sebelumnya.

Mereka ramai.
Ramai menghafalkan ilmu.
Saling bersahutan membenarkan jawaban.
Saling berebutan memilih "garapan" untuk mereka selesaikan.
Aku hanya perlu memancing, agar mereka tidak merasa sedang dicekoki.
Aku hanya perlu memfasilitasi, agar mereka tetap menikmati apa yang mereka ingini.

Aku jarang memaksa mereka untuk mengikuti alur sesuai bab-bab pelajaran.
Karena mereka sudah letih sebelumnya dengan gugu-an kurikulum.

Maka disini, aku lebih senangnya bertanya "Mau belajar apa kita hari ini?"
Kemudian mereka saling bersahutan, menjawab dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.
Sekarang giliran aku yang kepusingan.
Maka solusinya ku berikan mereka umpan sesuai kesukaan mereka masing-masing.

Ramai? Pasti.
Tapi ramai begini lebih mengharukan daripada diam dan sibuk dengan gadget masing-masing.
Kalimat andalan untuk membuat mereka rapih kembali adalah yang ku kutip dari seorang pendongeng favoritku, Kak Nia.
"Lomba duduk paling rapiiih..."
Sedetik kemudian mereka duduk rapih dan fokus kembali.

Ah, aku tidak ingin membuat mereka terus-terusan belajar. Aku ingin bersama mereka dan membuat kita semua senang belajar.

Maka, aku tidak ingin mengingkari janji...
Apalagi mengkhianati senyum manis dan sumringah mereka kala aku datang dan kemudian mereka berkata.. "Kakaaaaak datang..."

Aku tidak ingin memberikan sisa-sisa semangatku, justru aku ingin mencharge semangatku bersama kalian.

Maafkan jika ku tak sempurna.
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kalian dalam menuntut ilmu.

Barakallahu fikum.

Tangga Istiqomah, Kita Semua Saudara

Tes..

Air mata tak terasa mengalir dipipiku.
Sekilas rasa iseng membawaku pada hamparan kisah masa lalu. Betapa jahilnya aku dulu. Walau hari ini pun, tidak ada yang menjamin apakah aku sudah lebih baik atau belum. Yang terpenting, aku hanya ingin memeluk hidayah ini.

Perjalanan yang tidak sebentar.
4 tahun setelah memulai mentoring, nyatanya kasat mata orang melihat aku begini-begini saja.
Jika ku ditanya, apakah statement itu benar? Jawabnya ya.
Tapi aku menikmati berusaha menjadi yang menikmati proses ini.

Tangga Istiqomah.

Begitu berat maknanya.
Aku pun tak kuasa menakar diri sudah sejauh mana.
Namun aku wajib merasa jadi orang paling bersyukur di dunia ini, karena Allah tempatkan Allah dilingkungan yang terbaik, penjagaan yang baik, usaha yang terbaik.

3,5 tahun yang lalu aku merajuk.
Apa gerangan yang mendasari para wanita berjilbab begitu tertutup? Sedangkan aku sudah nyaman sekali dengan jilbab paris, celana jeans, dan atasan yang biasa ku kenakan ke kampus.

Pertanyaanku:
Mengapa kami (aku dan akhwat berjilbab syari) itu berbeda?
Manakah yang lebih baik diantara kami?
Manakah yang sebenarnya lebih betul?

Jawabnya: akhwat berjilbab syari.

Dulu, aku sudah dikenalkan dengan mentoring. Namun hanya sebatas tahu bahwa itu adalah kumpul wajib bagi mahasiswa baru dengan kakak seniornya. Selebihnya, aku tak paham.
Maka, meninggalkan waktu mentoring dan menggantikannya dengan agenda lebih asyik (versiku) lebih aku senangi.

Hingga di satu titik.
Pertanyaan-pertanyaan diatas.
Dan banyak lagi pertanyaan aku tentang Agama ini...
Membuat aku kembali ingin mentoring.

Ya...
Setiap orang pasti memiliki cerita dalam lingkarannya masing-masing.
Begitupun aku...

Proses yang tidak sebentar hingga aku benar-benar menyadari bahwa mentoring yang kini ku kenal dengan liqo adalah asupan energi ukhuwah dan semangat setiap minggu.

Pertemuan dengan akhwat-akhwat luar biasa selalu aku rindukan.
Murrobiyah yang sabar, telaten, dan penuh ilmu selalu menjadi penyambung antara pertanyaan dengan jawaban kami.
Agenda-agenda upgrade diri selalu dirindukan.

Dan hari ini pun seterusnya...
Aku tidak ingin main-main lagi.
Segala nikmat ini mahal harganya, dan tidak dapat ditukar dengan berapapun rupiah.
Sebab proses ini bukan tentang banyaknya uang yang keluar, tapi berapa air mata yang jatuh untuk sekedar menguatkan bahwa... "Putri bisa. Putri harus istiqomah. Putri gak boleh nyerah. Terus semangat mencari kelompok liqo yang baru..."

Semua sahabat syurga yang aku temui dari kelompok satu ke kelompok lainnya adalah jua guru bagi kehidupanku.
Betapa mereka begitu jauh lebih tinggi kadar ilmunya dibandingku dan mereka tetap tawadhu menyimak.

Tak lupa perjumpaanku dengan murrobiyah-murrobiyah yang memiliki keahlian masing-masing jua menjadi inspirasiku atas segala ilmu dan perjalanan hidup luar biasa mereka.

Alhamdulillah...
Nikmat terjaga yang aku tidak tahu apakah bisa aku rasakan saat aku memilih untuk tetap sombong dan tak mau memperbaiki diri, tak mau melihat kekurangan diri, dan merasa paling benar tanpa landasan apapun.

Sebab segala sesuatunya tidaklah sempurna.
Kita memerlukan berbagai cermin untuk memperbaiki diri.
Salah satunya adalah orang-orang shalihah disekeliling kita yang menjadi wasilah untuk kita memperbaiki diri.

Tujuan kita adalah Allah SWT.
Orang-orang yang cinta pada Allah, rinduiNya dengan sepenuh hati, beribadah dengan sesungguhnya, menaati perintah dan menjauhi laranganNya adalah yang bisa kita tiru akhlaknya.

Teladan kita adalah Nabi Muhammad SAW.
Orang-orang yang mencintai Nabi amatlah banyak, rasa cinta setiap orangnya berbeda. Namun, melalui orang-orang hang mencintai Nabi itulah kita bisa melihat akhlak baik Nabi.

Peluk erat sahabat-sahabat kita.
Tidak perlu dipermasalahkan perbedaan harakah kita.
Tidak perlu diperdebatkan Ustadz mana yang sering diundang pada kajian kita.
Karena sesungguhnya seluruh Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah adalah ijma kita.

Satukan persamaan, tanpa saling menjatuhkan.
Kita semua bersaudara dalam ikatan suci ukhuwah islamiyah.

Semoga jalan kita menujuNya mendapatkan ridho dari Allah SWT. Aamiin allahuma aamiin.

Al-Quran Adalah Obat Segala Penyakit, Udah Coba?

Al-Quran itu asy-syifa, obat, penawar dari segala jenis penyakit.
Percayalah. Yakinlah. Baik penyakit jasmani maupun penyakita rohani (hati).

Teman-teman pernah gak merasakan ketika lagi sakit kemudian intensitas membaca Al-Qurannya jadi lebih tinggi? Kalau iya, masyaa Allah ya. Allah kemudia memberikan kesembuhan atau mungkin mempercepat kesembuhan karena rahmat dari bacaan Al-Quran tadi.

Ada banyak sekali mukmin dan mukminat yang dekaaat sekali dengan Al-Quran. Dalam keadaan sehat maupun sakit, ghiroh membaca dan mentadabburi Al-Quran gak pernah menurun.

Tapi untuk sebagian kita, khususnya diri saya sendiri. Rasanya ada titik-titik atau moment-moment dimana iman sedang menurun, baca Al-Quran sesempetnya aja. Kemudian.... Allah beri sedikit sakit yang seolah-olah Ia berkata, "Ayo, kembali, baca Al-quran lagi, bicaralah padaku, dan akan Ku sembuhkan sakitmu.."

Ya..
Waktu saya mengalami kecelakaan, kondisinya bisa dibilang parah, butuh recovery yang lama. Dan saat itu Allah rangkul diri ini kembali. Hingga akhirnya, dalam waktu seminggu, luka-luka baret diwajah ilang dan gak membekas.
Obatnya: baca Al-Quran terus terus terus 😢 *sedih kalau inget

Atau kadang kala Allah uji kita dengan sakit-sakit kecil.
Beberapa hari lalu, jari tengah tangan kanan saya cantengan 😅 Kayanya ini pertama kali cantengan. Bingung juga sebabnya apa, karena biasanya cantengan terjadinya di jari kaki.
Lalu intropeksi diri, ah, minggu ini lagi euforia kelulusan, ah, ampe menurun banget tilawahnya.
Akhirnya googling cara nyembuhin cantengan. Disitu tertulis waktunya lama, berhari-hari.
Caranya jari yang cantengan direndam ke air hangat yang dicampur garam, tujuannya agar bakteri2nya keluar.
Oke saya ikutin, tapi.... selama proses rendaman jari itu, saya tilawahin, berdoa biar Allah kasih kesembuhan dengan cepat (sebab rasanya nyeri, hehe).
Anjurannya adalah 3 kali rendaman dalam sehari.
Maka, Qadarullah pada rendaman ke- 4, cairan didalam kulitnya berhasil keluar. Seketika langsung sembuh. Masyaa Allah. Allahu akbar. Ternyata ikhtiar rendam aja tidak cukup! Kita harus iringi dengan tilawah.

Dan yang terakhir, kejadian hari ini.
Ada 2 sariawan di bibir bawah saya. Teman-teman bisa membayangkan ya nyut-nyutannya hehe.
Kemudian saya membaca status seseorg yang bilang, qadarullah penyakit minus matanya hilang setelah terapi Dzikir Pagi atau Petang ditambah Al-Baqarah 1-50 yang dibacain pada segelas air kemudian ditetes dimata dan diminum.
Karena saya juga bermata minus, pingin nyobain.

Ternyata masyaa Allah, pada sore harinya, gak berasa lagi sariawannya. Alhamdulillah sembuh. Padahal tadi pagi masih nyeri, siangnya makan mie dan minum es.

Sungguh semua ini kuasa Allah. Takdir Allah.
Maksud saya menulis bukan untuk riya'. Apalah yang disombongkan dari makhluk penuh dosa ini.
Tapi kawan, ternyata Al-Quran ini mukjizat, petunjuk, rahmat, dan obat dari segala penyakit.

Jika suatu hari diri kita dirundung lelah, hati yang tak terarah, penyakit yang berdatangan, coba opsi pertama kita bukan dokter, tapi Al-Quran.

Insyaa Allah, dan atas izin Allah. Jika kita yakin, bertauhid. Maka Allah akan merengkuh kita dan perhalan menyembuhkan segala penyakit kita, dan menggantikan dengan nikmat iman kembali.

Mau? :)

Barakallahu fikum.
Teman-teman pasti punya cerita dengan Al-Quran yang jauh lebih dahsyat dari putri.

Semoga kita istiqomah, ya. Aamiin.

Challenge Menuju Jannah #1 Edisi Qurban

Assalamualaikum Wr.Wb

Hai hai Pembaca sekalian.
Bagaimana suasana menikmati Hari Tasyriqnya?
Alhamdulillah semoga kita selalu dalam kesyukuran yang tinggi.

Ngomong-ngomong tentang Idul Adha, kawan-kawan sekalian tahun ini atau tahun-tahun sebelumnya sudah pernah berqurban belum? 😊
Kalau belum, berarti kita samaan.

Tapi apa tahun depan pengen berqurban?
Pasti dong, insyaa Allah semoga Ia izinkan.
Lalu, sudah ada rencana keuangannya?

Kalau belum. Yuk kita niatkan dan tantang diri kita dengan #ChallengeMenujuJannah1 yaitu Resolusi berqurban tahun 2018!!!

Kita mulai dengan simpan uang kita sebesar Rp6.000/hari atau lebih di dalam celengan qurban.
Istiqomahkan gak ada bolongnya ya sampai Idul Adha tahun depan. Siaaaaap?

Insyaa Allah; jika diniatkan karena Allah, pasti ada jalannya. 6ribu sehari, itu kecil dan mudah bagi Allah 😊😊😊
Bismillah yuk.

Allah Memelukku Erat


Selamat hari kemerdekaan.

Merdeka!
Iya, aku merdeka.
Bagi saya merdeka itu ketika kita bahagia sepanjang waktu, gak penuh prasangka sama hal-hal yang gak memerlukan prasangka kita. And well, semua sih terserah sama pilihan masing-masing tentang bagaimana cara memilih rasa memerdekakan diri.

Khusus kali ini, saya ingin menjawab tentang pertanyaan yang hadir.
"Putri gimana? Bisa sidang skripsi?"
 Pertanyaan yang biasa banget untuk mahasiswa tingkat akhir yang emang lagi ngerjain skripsi. Tapi buat saya itu istimewa banget. Bisa dibilang kaya gak mungkin gitu. Kenapa gak mungkin? Yap, karena 1 minggu sebelum saya sidang skripsi, saya baruuu aja menyadari kalau ada salah satu nilai mata kuliah saya yang 'E'. E itu artinya gak lulus. Pilihannya cuma 2: ngulang mata kuliah lagi semester depan (dan itu berarti saya harus lulus di semester 9) atau meminta perbaikan nilai dari dosen.

Ah, saat itu rasanya hancur abis hidupkoeee.
Ibaratnya untuk melangkah lagi sampai puncak, eh ternyata harus mundur lagi dan muncaknya besok-besok.

Disini saya benar-benar intropeksi diri, satu pertanyaan yang selalu saya ulang-ulang, "Yaa Allah, pasti ada yang salah ya dari prosesnya selama ini? Sampai akhirnya dikasih ujian begini.."
Kalau gak salah sampai seminggu saya memutuskan buat gak ke kampus, lebih tepatnya gak ketemu teman-teman kampus. Kaya gak ada nyali gitu, padahal ya gak ada hubungannya sama teman-teman juga. Tapi rasanya gak kuadh gitu kalau ditanya, "Kenapa Put? Kok berkas skripsi lo diambil lagi?" Iyaa kan saya gak bisa daftar sidang duluuuuu. Hikz.

Rasanya sepi banget. Mematut-matut diri rasanya. Orang tua sudah berharap banyak dan taunya yaa saya lulus semester ini. Mereka nanyain, gimana gimana gimana? Nanti wisuda pakai baju apa? Ooo tidak. Ngomong jujur gak nih?

Di masa-masa seperti ini, saya butuh teman untuk bercerita. Teman yang lebih sangat dewasa dari saya baik dari segi umur, pengalaman, dan pengetahuan agama. Akhirnya memberanikan diri datang ke rumah Ustadzah.
Mbak, begitu ceritanya. Takut banget dan sedih banget kalau lihat wajah orang tua yang sudah berharap banyak. Kalau nambah semester pun, bayar SPP nya lumayan. Belum lagi, sebenarnya saya akhir Juli ini sudah bilang 'ya' untuk masuk ke rumah tahfidz. Jadi rumit, waktu sidang pun tinggal seminggu lagi. *dan gak kerasa mata kaya basah gitu.

Saat itu, Ustadzah banyak ngasih cerita pengalaman kuliahnya dan beberapa disclaimer. Hingga masuk ke bagian taujihnya

Put, serahkan semua sama Allah. Segala ujian ini datang dariNya, mungkin selama ini terlalu sibuk sama urusan dunia sampai ibadahnya kendor. Jangan lupa ikhtiar, untuk sekarang, restu dosen yang bisa menolong. Dan inget, hatinya dosen itu milik siapa? Milik Allah. Maka minta sama Dia. Dan inget, pasrah dan tawakkal setelah berikhtiar. Siapkan mental untuk kemungkinan terpahitnya kalau harus nambah, gak usah mengkhawatirkan rezekinya. Allah lagi pengen putri belajar sabar...

Itu. Itu poinnya. Pasrah. Berserah. Tsiqoh atas segala ketetapannya.
Kemarin-kemarin saya kekeuh minta sama Allah, harus lulus semester sekarang. Tapi saya gak boleh begitu terus, gak boleh memaksakan kehendak sama Allah, tapi mintalah dengan segala kelembutan. Akhirnya tiap bakda sholat saya katakan... Yaa Allah, putri bermunajat padaMu. putri berencana untuk lulus semester ini, tetapkanlah juga untuk putri lulus semester ini Yaa Allah. Namun, kuatkan putri untuk segala ketetapanMu. Yaa Allah, jika ujian ini datang karena dosa-dosa putri di masa lalu, ampuni putri yaa Allah, ampuni. Namun jangan limpahkan sedih ini pada orang tuaku, kepada putri saja yaa Allah....

Waktupun bergulir, ikhtiarku harus terus berjalan, kan?
Pertama-tama harus menemui dosen yang bersangkutan. Proses ketemu dosen ini lumayan panjang. Karena lagi musim liburan kuliah, dosen jadi jarang ke kampus kecuali ada sidang skripsi. Udah seminggu berlalu, tapi belum ketemu juga. Haaap, saya gak boleh nyerah. Sampai akhirnya Allah kasih petunjuk lewat teman kampus yang juga mau ketemu dosen itu. Ketemunya di rumah dosen tersebut.

Singkatnya, saya sampai di kediaman dosen yang ternyata gak jauh dari rumah saya. Berbincang sana-sini dan kemudian menyampaikan maksud. Beliau meluruskan dan memberi arahan, hingga akhirnya, "Kamu mau nilai berapa?" "D aja cukup Bu, yang penting lulus mata kuliah ini.." "Hmmm gitu. Eh iya, IP kamu sekarang berapa?" "3,6 bu.." "wah gede, Ibu kasih B-..."

Yaa Allah, nikmat mana lagi yang kau dustakan? 

Sampai detik itu saya benar-benar gak percaya. Yaa Allah, Allah maha baik banget, melembutkan hati dosen ini. Dan saya bisa sidang skripsi kemudian dinyatakan lulus S.Pd.

Ada yang bertanya-tanya, kok bisa Put dapat nilai segitu?
Sesuatu hal yang kayanya mustahil. Tapi dengan Allah semua jadi mungkin.

But ikhwah, ternyata bener. Kita tuh kadang sibuk sama dunia sehingga targetan Ibadah Yaumiyah jadi lalai.
Seminggu saya dirumah, akhirnya mutusin gak ngerjain apa-apa (kecuali kerjaan rumah) selain ibadah.
Kalau lagi perlu untuk berhubungan sama manusia, pun jangan lupa untuk doain yang bersangkutan.
Mungkin sedikit MY yang intensif dikerjakan kalau kita punya hajat:

1. Baca doa robitoh dan bayangin wajah yang bersangkutan setiap bakda sholat (1-2 kali tiap bakda sholat) lalu iringi doa terbaik.
2. Dzikir "Hasbunallah wa nikmal wakil. nikma maula wa nikmannasir" artinya "cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah sebagai sebaik-baik pelindung". Setiap hari minimal 500 kali. setelah itu dilanjutkan Istighfar, Tasbih, Tahmid minimal 500 kali juga. Tujuannya: tauhidullah ya, tetap berkeyakinan bahwa Allah sebaik-baik penolong dan pelindung kita.
3. Baca Al-Quran minimal se-juz
4. Sholat sunnah, dhuha dan qiyamul lail setiap hari
5. Birul Walidain ditingkatkan
6. Minta doa orang tua
7. Perbanyak sedekah
8. Buka dan terima setiap kesempatan berbagi atau ketika diberikan amanah dakwah. (masalah gak bikin kita mundur dari jamaah kan?)
9. Ikhtiar MAKSIMAL. sebelum waktu habis, harus tetap ikhtiar.

yaa itu yang mulai saya perbaiki. Jangan ditanya, sebelumnya ibadah saya jeblak jeblok. Cuma mikirin nih gimana bisa selesai skripsi. ternyata its totally wrong guys, lo gak deket sama Allah, dunia juga bakal jauh dari lo.

4 sehari setelah acc dosen, saya dijadwalkan sidang skripsi. Hal yang sama saya lakukan menuju sidang, doa ribitoh untuk dosen penguji gak ketinggalan.

Alhamdulillah, siang itu tanpa kendala saya presentasi hasil skripsi saya. Sorenya, dinyatakan lulus.
yaa Allah, kalau saya sombong, prustasi, atau malah nyalahin keadaan (bukannya intropeksi diri) mungkin sekarang saya lagi mengutuk waktu dan banting tulang bayar semesteran..

....
Eit tapi semua belum usai, sekali lagi Allah uji. kabulan dari doa "limpahkan kesedihan pada saya saja"
Selesai sidang, Hard-disk organisasi yang dititipkan ke saya ketinggalan di koridor lantai 8. Dan saya baru sadar ketika sudah pulang. Harganya? Sejuta :") Well, ayo kita nabung buat ganti harddisk ini. :D

Tapi sekali lagi juga Allah kasih nikmatnya. (ah cinta banget)
Seminggu kemudian saya ke kampus lagi. Bertanya ke OB, nemuin harddisk gak pak? Enggak. Nanya lagi ke OB lantai 9, jawabannya enggak juga. Lemash saaay.
Akhirnya, saya tergugah untuk masuk ke ruangan sidang saya minggu lalu. Saat itu, sedang ada sidang skripsi juga untuk jurusan Akuntansi. Dan sebenarnya selain dosen dan yang sedang di ujian skripsi gak boleh masuk. tapi bismillah, masuk aja dah...

Akhirnya.... Ada. Adaaaa. Adaaa. Ditumpukan berkas-berkas yang ketinggalan. Di paling atas, dan memungkinkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk ngambil itu.

Sekali lagi, Allah tunjukkan keajaibannya. Allah rengkuh kasih sayangNya. Allah curahkan segala pertolonganNya.
Saya gak akan pernah berhenti berdoa, gak pernah. Karena di momen-momen berdoa itulah saya berasa lagi curhat sama Kekasih. :')

Saya pernah lalai. Allah peluk saya. Baru setelah beberapa lama, saya menyadari kehangatan pelukanNya dan kemudian saya menyesal.... "kenapa tidak dari dulu menyadarinya..."

Yoms ikhwah, udah ya, kita gak boleh nyerah sama masalah.
justru ketika kita lagi dirundung masalah, Allah sebenarnya lagi meluk kita seerat-eratnya. Jangan lepas. Peluk balik. .....

Refleksi Hayati dan Zainudin

Kali kedua nonton Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wircjk.

Kesejatian cinta.
Ketulusan cinta.

Aku jadi ingin berangan.
Tapi terbantah oleh seseorang yang pernah mengatakan padaku "Jangan sering berangan."
Kalau begitu, apa boleh jika diganti dengan bercita-cita?"

Biar ku ceritakan sedikit.
Hayati dan Zainudin adalah dua insan yang saling mencinta. Namun adat memutuskan mereka tidak bisa menikah. Akhirnya Hayati menikah dengan seorang yang kaya raya bernama Aziz.
I can't imagine, bagaimana kehidupan Hayati seorang diri.
Dia punya harta, tapi tidak merasakan cinta.

Selepas Hayati menikah, Zainudin patah hati hingga depresi. Terpuruk ia dan terkunci dalam jebakan pikirannya sendiri. Hati dan harapannya dibawa oleh Hayati. Azhimat bukti cinta Hayati padanya seolah terbawa pergi bersama dengan inai yang terpatri di jari jemari Hayati.

Bersama Bang Muluk, sahabatnya. Zainudin memutuskan untuk merantau ke Batavia. Menulis dan terus menulis perasaan dan kesedihan hatinya. Jalan dan takdir akhirnya membawa Zainudin menjadi penulis terkenal dan diberi kepercayaan memimpin sebuah Perusahaan Surat Kabar di Surabaya.

Namanya berubah menjadi En. Shabir. Mashyur dan terkenal ia.

Hingga hari pertemuan itu datang lagi.
Opera "Teroesir" yang mengangkat cerita dari buku karangannya dilaksanakan di rumah Zainudin. Disitulah Hayati, Aziz, dan Zainudin bertemu kembali. Saat itu, Aziz sedang mengalami kerugian, seluruh hartanya habis tersita akibat hutang. Zainudin membantu, memberikan tempat tinggal untuk Aziz dan Hayati dirumah bersamanya.

Gejolak cintanya pada Hayati tidak padam.
Namun, kekecewaan akan harapan kosong Hayati lebih dominan.
Di akhir cerita, Aziz pergi, menceraikan Hayati kemudian mati karena overdosis.

Dalam hati Hayati, angan-angan bersatu dengan Zainudin muncul kembali.
Tentu, harapannya sangat besar.
Ia yakin Zainudin masih mencintainya. Sebab terpampangnya lukisan wajahnya di ruangan kerja Zainudin.

Keberanian Hayati membawanya untuk mengatakan bahwa ia siap hidup bersama Zainudin, bahwa ia masih sangat mencintai Zainudin.

Alih-alih memeluk Hayati, Zainudin memberikan jawaban yang bertolakbelakang dengan angan-angan Hayati.

Ia tumpahkan segala rasa kecewanya pada Hayati. Ia sebut Hayati sebagai orang yang paling kejam hingga membuatnya menderita. Membuatnya menjadi sangat dikucilkan masyarakat dan akhirnya pergi meninggalkan Padang Panjang.
Zainudin memutuskan, Hayati harus dipulangkan ke Padang. Dan dia tanggung semua keperluan Hayati.

Sakit. Tak ubahnya ranting kuat yang dipaksa untuk patah. Hayati menangis sejadi-jadinya.

Namun ia menurut, dengan berat hati ia berangkat pulang ke Padang menaiki Kapal Van Der Wijck. Firasatnya, ia akan tenggelam.
Dititipkannya surat untuk Zainudin berisikan bahwa ia selamanya akan mencintai Zainudun. Bahkan hingga maut menjemputnya.

Setelah membaca surat cinta terakhir Hayati, Zainudin tergugah. Seluruh hatinya adalah milik Hayati. Dan sudah cukup kemarahannya terbalaskan. Ia akan menjemput Hayati kembali.

Namun terlambat, Kapal Van Der Wijck telah tenggelam. Hayati telah terluka parah. Beruntung mereka sempat bertemu.

Belum sempat cinta mereka tercatat dalam ikatan pernikahan. Hayati kembali 'pulang' pada Tuhan.
Meninggalkan Zainudin yang merana dan tetap berusaha menghidupkan Hayati dalam karya dan tulisannya.

-----

Baiklah.
Duhai calon Imam ku dimanapun berada.
Cerita itu menyedihkan, ya?

Kalah begitu. Kita tinggalkan kisah Hayati dan Zainudin.
Dan kita hidupkan kisah kita bersama-sama.

Sampai detik ini, aku belum tahu seperti apa rupamu dan dimana tempatmu menebar kebaikan sekarang.
Bisa jadi kita dekat, atau bahkan terpisahkan jarak yang teramat. Ku kira engkau pun sama. Tidak tahu juga kalau masa depan kita akan bersama.

Tapi tapi...
Meski kita belum pernah bertemu ataupun bertegur sapa.
Semoga suatu saat kita bisa saling berkata dengan sejujurnya. Tanpa menyembunyikan rasa seperti halnya Zainudin di akhir cerita.

Biar jarak ini terus terjaga sampai waktu yang digariskan tiba.

Biar aku tidak perlu nangis mengemis.
Biar engkau tidak perlu lelah menyembunyikan.

Kita tidak sama-sama menunggu kan?
Namun kita menuju.

Lanjutkan setiap karyamu.
Dan aku pun begitu.

Sampai bertemu nanti.
Saat rasa cinta pertama kali akan kita hadirkan.
Selepas saksi mengatakan 'sah'.
Dan arsy'Nya telah terguncang akibat ijabmu.

Mimpi

Malam ini aku termenung.
Menyelami kertas-kertas bertuliskan impian dan citaku.
Sesaat sebelumnya, aku mendapat kabar tentang seorang kawan yang sedang melanglang buana dengan karirnya.
Sedang aku..
Ku lihat lagi baris tulisan tangan tak beraturan itu..
Dalam hati. Kenapa tak tuliskan mimpi seperti dia? Mengapa?

Lagi.
Berkhayal waktu akan kembali dan membawaku pada titik dimana aku memulai segalanya.
Tidak.
Aku sama sekali tidak bisa.
Berkali aku coba kelit angan itu, tak ayal hanya membuatku menitikkan air mata

Duhai Cinta,
Aku mohon untuk terus yakinkan aku pada cita yang aku tuliskan ini.
Sejak ia tercipta dan menjadi sebuah kalimat, aku telah yakin bahwa INILAH DIRIKU

Duhai Cinta,
Berkali aku harus menyadari untuk tidak hidup pada mimpi orang lain
Untuk tidak berjalan di belakang orang lain dan hanya jadi pengikutnya
Untuk tidak sekedar melakukan, tapi juga meresapi dengan cinta tiap tiap langkah dan gemulainya

Duhai Cinta,
Izinkan aku untuk terus istiqomah dengan apa yang telah terpatri disini
Meskipun ia tidak akan dilihat oleh dunia, tapi izinkan ia untuk tetap sampai pada Ridho Mu
Meskipun ia hanya berupa sentuhan-sentuhan lembut pada jiwa yang membutuhkan kehangatan, izinkan ia tetap mendapat contreng ibadah padaMu
Meskipun ia hanya tentang mengabdi pada tiap tapak negerimu, izinkan ia untuk tetap bisa menggema diudara syurgaMu

Duhai Cinta,
PadaMu ku titipkan kata-kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat heroik ini

Dari seorang yang sering dipertanyakan apa tujuannya
Dari seorang yang sering dipertanyakan apa prestasinya...

Izinkan ia untuk tetap tegar, kuat, serta tangguhkan pada perjuangan tidak main-main ini
Izinkan ia untuk terus bersahaja
Memberikan kursi-kursi istimewa pada orang-orang yang akan mendunia dengan jalan itu
Dan ia, kan yakin bilik rotan tempatnya mengajarkan ilmu tentang kehidupan adalah tempat singgah istimewanya